Sesuatu itu menjadi menggiurkan, melenakan tapi juga mengerikan

Seperti hal yang sering terjadi padaku dan suamiku malam hari. Hm…malam kemarin sebenarnya cukup melelahkan buatku. Mesti begadang ngerjain tugas dan berpayah-payah sejak sore. Jam 10 malem tugasku baru selesei. Itupun sebenarnya dipaksain buat selesai. Huuhh….proyek kampus yang sedang kukerjakan kali ini emang bener-bener nyita waktuku.

Setelah kubereskan semua file-fileku giliran hubungin suamiku tercinta buat minta jemput.he3x. Yaa…walaupun agak lama dijemput juga siy…tapi ya gitu gak langsung pulang. Malam itu kita berlima, aku, mas yudhis, mas ghurrun, pramuji dan mas david ngopi bareng di bendungan sutami. Wihh…pengalaman pertama yang mengasyikkan ngopi bareng ma mereka.

Obrolan mulai dari yang ringan sampai yang ringan banget saling dilontarkan. Apalagi keinget kalo pas mojokin mas ghurrun. Swweeennneeengggg…puuuollll….hahahahaha….. Satu hal darinya yang slalu jadi ciri khas, gayanya yang dibuat polos itulah yang kadang bikin geregetan orang yang diajak ngomong. Hmmm…tapi sayangnya aku gak bisa ceritain tentang kisah semalem. Pokoknya banyak hal yang lucu en katanya ada yang ‘rahasia’ juga lo…

Abis berlama-lama ngopi bareng, baru deh aku pulang ma suamiku. Tahu gak, selama perjalanan ada sesuatu yang menarik yang kita bicarakan, yaitu about money. Mmm…sebenarnya bukan hal yang menarik kok kalo aku gak punya cerita tentang proyek-proyek birokrat yang nilainya bisa buat naik haji 5 kali itu. (agak berlebihan). eh tapi bener kok, dari suamiku aku baru tahu kalo betapa rumitnya hal-hal keuangan itu kalo dalam lingkup birokrasi. Sesuatu yang nyata-nyata salah pun bisa dibalikkan jadi yang benar. Menggiurkan sih, sebuah penawaran yang tiba-tiba datang padaku malam itu dari seorang yang baru kukenal di rental. Tapi ya…dasar aku orangnya paranoid, yah meskipun aku meladeni omongannya tapi tetep aja ‘antena’ curigaku menyala-nyala terus.

Aku gak habis pikir, kok bisa-bisanya ya mereka dengan enteng membuat sebuah proyek yang entah nantinya dijalankan setengah-setengah atau fiktif sekalian, tapi dengan enjoy menikmati hasilnya. Bergelimang uang dengan modal sebuah proposal proyek kegiatan. Proyek-proyek yang tujuan awalnya untuk memberdayakan rakyat miskin dengan mudahnya dimanipulasi demi kepentingan pribadinya. Mengerikan …!!!

Kalo dipikir-pikir lagi, dengan dana yang setiap tahun dianggarkan pemerintah untuk rakyat miskin yang jumlahnya miliar-an rupiah itu (sampe gak ngebayangin gimana ya wujud konkritnya) bisa di-mark up sehingga dana itu gak pernah sampai ke tangan orang-orang miskin itu. Bukankah kalo emang bener dana itu digunakan semestinya, rakyat miskin bisa lebih terberdayakan lagi. Apa emang kayak gitu ya, kalo orang udah pegang uang banyak ?. Hehehe jadi ngerasa gimana gitu ama diriku sendiri…entah aku termasuk orang yang miskin ataukah terlalu polos, tapi jujur bagiku mendapatkan uang 100 ribu aja artinya aku udah punya uang banyak. Eh….kemaren ada orang bilang ke aku dengan dana sebesar4,2 juta itu merupakan nilai yang terlalu kecil untuk sebuah proyek kegiatan. (sempat tertohok sesaat waktu itu).

Beberapa kali kupikir-pikir, kucerna, ya….kayaknya emang sedikit uangnya. Tapi kenapa bagiku itu banyak sekali ya ?. Dan rasanya menakutkan membawa uang terlalu banyak. Rasanya jadi was-was, lebih gampang curigaan, en rasanya sedikit congkak meskipun itu hanya selembar uang 100ribu. hahahah lucu juga ya kalo dipikir-pikir lagi. duh…masa aku yang terlalu polos ya….????

KIta semua emang butuh uang, gak bisa dipungkiri dengan uang juga kita bisa bikin kegiatan-kegiatan sosial juga kan, yang kata orang banyak “untuk pemberdayaan masyarakat”.

Sebenernya banyak juga orang yang memiliki ketrampilan-ketrampilan tertentu, tapi faktanya banyak yang gak jalan hanya karena mereka gak punya modal buat mengembangkan ketrampilan mereka itu. Ya itu kalo pikiran orang-orang yang masih dalam taraf usaha. Tapi bagi yang sudah tinggal tanda tangan terus dapat transferan rekening tentunya ya lain lagi. Tapi tetep kan, duit itu masih sesuatu yang dikejar orang,

Tak terkecuali aku juga. Hmm…penawaran mendapatkan uang yang sangat berlebih dari biasanya itu, begitu menggiurkan sekali, seolah menawarkan sebuah kesejukan. Ah…tapi benarkah itu sebuah kesejukan? atau hanya sebuah tiupan angin yang seolah lembut tapi sebenarnya menjadi pertanda akan datangnya badai di kemudian hari?

This entry was posted on Rabu, Juni 20th, 2007 at 7:21 pm and is filed under Nikah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply