Sepenggal Curhat Kolektif

Catetan:Ini sepenggal tulisan yg sempat aku eker2 dari laptopnya Dida. Ehm.., ternyata Nanang masih menyimpan bbrp tulisan kawan2 di UKMP. Ni tulisan kira2 lahir taun 2002-an…

bukannya mau nyaingi ghurrun dan nanang yg curhate
sampe menuh2in bungkusnya
:p

guys,
aku memang bener2 sedang pengen curhat.
dini hari ini (waktu yg ideal buat aku untuk njenguk sobat2 di sini, hehehe) aku jadi inget banyak hal.

silakan ketawa, karena hari ini aku inget Wajah Tuhan. aku mendambakan keterkabulan pintaku yg kadang2 dihadirkanNya
denngan cara yg ajaib itu. kalian juga bagian daari keyakinan itu.

sesungguhnya aku agak ragu tentang satu hal.
akan jadi apa kita nanti. aku, ghurrun, umar, nanang, mas har, elllis, dan makhluk2 lain yg pernah menghuni tempat ini
dengan setia. akan jadi apa sih, kita nanti?
kalo puluhan taun yg akan datang, kita nanti ketemu lagi; apa sih yg akan saling kita tanyakan?
apa kita nanti cuma jadi orang2 yg saling menanyakan jumlah anak dan harta yg udah kita kumpulkan?
atau jangan2 kita nanti ditakdirkan untuk jadi satu tim yg bekerja terus bersama2 untuk berbuat sesuatu bagi peradaban?

mungkin hari ini terlalu dini untuk menanyakan tentang apa yang akan kita tulis bwat biografi kita.
tapi nggak papa kan?
silakan aja tersenyum2 culun sambil ndoweh ala ghurrun ketika membayangkan masa depan.
rasa penasaran kita terhadap masa depan itu yg membuat kita terus tumbuh dan hidup.
rassa penasaran yg nikmat.
hehehehe
aku kasmaran kepada masa depan.
;)

demi rasa kasmaran itu, aku kadang juga bisa jadi amat nekat.
aku udah rencanakan setelah katam ngerjakan order bulan ini, aku akan bikin rencana edan.
sejenak ngelupakan tetek-bengek pemrograman, melupakan kalian juga, melupakan temen2 kantor,
lalu mbambung ke suatu tempat. mampir ke beberapa kota, dengan tujuan yg tak lazim.
aku nggak akan bilang mau apa. mungkin nanti aku cerita kalo sudah selesey perjalanan itu.

da dah….

9/10/2002
mau nulis lagi, tapi nanang lirak-lirik ke screen. malu, heheheh
namanya orang lagi curhat kok diliat.

sorry guys
kadang aku merasa berdosa sekali. berdosa pada orang2 di sini, pda orang2
yg pernah aku lontari wacana ttg deschooling.

tadi, aku baca di milis cfbe, ttg potensi personal tiap manusia yg nyatanya memang berbeda. ada manusia jenis deduktif, ada juga manusia jenis didaktif. dalam perkembangan biologis, emosional, maupun intelijensia, keduanya jelas berbeda. dengan kegeeran ekstra, aku ngerasa masuk sbg jenis manusia didaktif. manusia yg lebih sreg kalo belajar secara otodidak, males digurui, tipikal pemberontak sistem, dan punya pertanyaan2 tak kunjung habis ttg diri dan apa yg melingkunginya. (mungkin krena hal ini, aku dg cepat menyerap konsep ttg deschooling society dan anarkhirme sebagai sebuah paham).

wacana ini memberi sebuah jendela longokan baru buatku.
jangan2, aku salah ketika memberikan wacana deschooling di society yg nyatanya didominasi kaum deduktif. aku yakin, lontaran ini pasti mau gak mau bakal nimbulkan kebingungan yg lumayan.
yup, aku setuju bahwa kebingungan adalah awal yg bagus u/ memicu pemikiran2, perenungan2, dan akhirnya menimbulkan sebentuk kreatifitas yg orisinal– dan ujung2nya, membantu menemukan kedirian yg kokoh.

but, aku nggak tega juga menyaksikan orang2 yg ‘menyerap’ lontaranku itu mesti menempuh rasa sakit yg pernah aku tempuh. dude, berani tampil beda dan memboyong paham yg berbeda dari keumuman, akan membawa rasa sakit yg tak pernah kadaluarsa. bedanya dg aku, aku sudah kadung kebal dalam menjalani rasa saakit itu. aku juga sudah punya siasat untuk melingkung kebedaanku.
dengan jalannya waktu, aku sudah molai nyicil menjadikan potensi laten menjadi kapasitas yg integral.
(ehm, rasanya kok sok metuwek bgt yah?)

rasa sakit yg aku maksud itu nampaknya molai dijalani brewok dan nanang. sakit menghadapi hujan tanya dari ortu, dan lingkupan lingkung.
buddy, mungkin aku sedikit lebih beruntung dari kalian. aku nggak pernah mengalami hambatan yg sebegitu besaar dari lingkunganku. tapi beda dg kalian. aku dan kamu, dititipi tanggungan yg beda konteksnya. aku nggak pernah dituntut selesaikan s1, karena sejak smp aku dipercaya menentukan masa depan (utamanya dalam masalah pendidikan) sendiri dengan segala resikonya. syukur, aku bisa tetap dipercaya hingga sekarang. syukur, aku bisa kasih mereka ’sedikit bukti’ bahwa aku memang mampu. mungkin ini yg dimaksud pengejawantahan teks menjadi konteks.

guys, selamat bersakit2. menjadi berbeda memang pahit. kalian sudah tau kan?!
aku juga nggak nolak dan merasa sakit hati kalau kalian anggap ide2 anarkhisme yg pernah aku lontarkan cuman melulu sbg wacana. bukannya pengen nguji kalian u/ maju atau mundur dari langkah ini. sejujur2nya, aku nggak tega dengan rasa sakit yg mesti kalian tempuh.

tabik,
Yudhista Aditya

This entry was posted on Selasa, April 24th, 2007 at 7:22 pm and is filed under Curhat. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

One Response to “Sepenggal Curhat Kolektif”

  1. sun lamps depression Says:

    Outstanding work once again. Thanks a lot;)

Leave a Reply