Ruang-ruang kertas

Demi melindungi kesehatan, saya berusaha menjadikan ruang kamar kami sedapat mungkin dalam keadaan kedap debu.

Bagi penderita alergi debu, dunia ini memang sungguh tak bersahabat. Dunia kita memang penuh debu, namun syukurlah, sebagaian besar bukan termasuk klasifikasi alergen bagi saya. Debu yang jadi masalah adalah debu2 rumah, debu industri, pendeknya debu2 yg “diproduksi” manusia.

Kami berusaha menciptakan ruang yang kedap debu.

Ini demi melindungi saya dari kejengkelan terhadap para tetangga yg tak tahu-menahu dengan “cacat” saya ini. Ya, mereka kerap menimpakan sebagian debunya ke kamar saya ketika menyapu,  membersihkan kasur, atau menghaluskan kayu yang akan dijadikan perabotan.

Kami tutup lubang2 ventilasi kamar  dengan kertas tisu. Itu ide istri saya. Saya menyambut baik gagasan itu. Pertama, karena pori2 tisu yang kasat mata itu masih memperkenankan adanya pertukaran aliran udara ke dalam  dan ke luar ruangan. Disamping itu, pori-porinya juga cukup kuat untuk menahan partikel debu yang jadi biang masalah saya. Kedua, sifat tisu yang sangat temporer sebagai bagian dari sebuah konstruksi ruang menjadikannya sangat fleksibel. Karena itulah saya lebih suka tisu—alih-alih  kain sebagai materi penutup lubang ventilasi.

Sifat kesementaraan materi kertas sebagai bagian konstruksi ruangan yang utuh, sesungguhnya amat menarik pikiran saya. Bangsa2 bermata sipit telah lama menempatkannya sebagai material bangunan bersama-sama dengan kayu. Padahal kalau diperhatikan, budaya bangunan bermaterikan kertas ini tumbuh di wilayah yang iklimnya lebih keras—di daerah sub-tropis yang tak ramah dengan materi se-rapuh kertas. Saya kurang tahu persis latar belakang inovasi budaya ini. Yang jelas, kertas dan kayu memang sinergi yang sangat moderat sebagai isolator panas—apalagi di daerah yang perubahan musimnya sangat drastis seperti di Jepang, semenanjung Korea, dan sebagian besar daratan Cina.

Lebih lanjut, aplikasi materi kertas ternyata tak melulu pada bangunan yang didominasi kayu. Pada beberapa daerah padang rumput di Cina dimana materi bangunan utamanya adalah tanah-batu, kertas juga masih menjadi pilihan sebagai materi penutup jendela karena sifatnya yang tembus cahaya.

Namun pemilihan materi kertas bukannya tak menimbulkan masalah. Kita mesti mewaspadai sifatnya yang rapuh itu. Pengaplikasian material ini mestinya memperhatikan juga arus udara—satu hal yang menjadi perhatian utama dalam Feng-Shui. Arus udara yang keras atau perubahan tekanan yang tiba-tiba akan membuat kertas menggembung atau bahkan robek.

Karena itulah, dalam arsitektur Jepang, bangunan-bangunannya lebih banyak menggunakan pintu geser. Konstruksi pintu geser sangat menguntungkan bagi bangunan berbahan kertas-kayu. Pertama karena bahan ini relatif sangat ringan, sehingga cocok sekali untuk dijadikan bahan pintu geser. Dan kedua, konstruksi pintu geser membuat ruangan tak mengalami perubahan mendadak tekanan udara ketika pintu dibuka-tutup—sebagaimana yang terjadi jika kita menggunakan pintu ayun.

Dalam perlakuannya di budaya Cina yan lebih banyak menggunakan konstruksi pintu ayun, pengaplikasiannya pasti harus mempertimbangakan arus udara ketika pintu dibuka-tutup. Hal itu ditempuh dengan mengaplikasikannya pada ruangan yang memiliki ventilasi cukup—sehingga perubahan tekanan udara dapat terdistribusikan dengan baik, memperkecil tekanan udara yang ditimbulkan pintu dengan konstruksi pintu ayun kembar (atau biasa disebut teman2 tukang sebagai pintu “kupu tarung”), atau mengaplikasikan pintu yang memiliki banyak rongga ventilator.

This entry was posted on Sabtu, Agustus 25th, 2007 at 7:25 pm and is filed under Nikah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

One Response to “Ruang-ruang kertas”

  1. yogie Says:

    menarik..
    terima kasih telah menyediakan info ini…

Leave a Reply