Resah dan gelisah.., menunggu di sini…

Kayaknya sudah lebih dari setengah taun saya gak nulis2 yg fun, yg rekreatif…

Dulu, saya pikir keberadaan perangkat portabel macam laptop ini akan membuat saya lebih sering nulis. Tapi, kenyataannya tidak.
Nulis ya nulis, tapi nulis hal2 yg rutin macam CSS atau XHTML dan PHP.

Saya memang jadi lebih produktiv. Produktif dalam pemaknaan kapitalistik, dimana tiap jam bisa terukur dengan rupiah dan dollar. Ah ya, tentu saja itu hal yang saya senangi. Siapa se yang gak seneng dapet duit, dan Paypalnya dipenuhi bilangan2 dollar?
Mungkin memang sudah siklus usia. Di bilangan umur segini, kalo ketemu teman ya ngobrol kerjaan, keuangan, cerita2 tentang pelobian, politik praktis, dan sedikit bertukar cerita tentang anak-istri. Lebih terkurangi topik2 spiritualitas dan politik (dengan “p” kecil, yg merujuk pada esensi falsafah politik), apalagi ngomongken cewek – kejauhan!

Hidup makin dijajah pekerjaan dan perhitungan2 mata uang. Bukannya sok idealis, sodara2! Tapi coba direview saja. Bangun tidur sudah mikirken kerjaan, siang2 waktu makan (kalopun ke warung atow kafe) kalo gak ngakses internet (istirahatpun online pula) ya ngobrol dengan teman atau orang yg baru kenal soal pekerjaan. Apalagi orang freelance kayak saya yg hampir seluruh waktu diluar waktu tidur dan istirahat mesti berjibaku dengan pekerjaan. Kayak2 seluruh waktu sudah dijajah laptop!

Maka, kalow saya nggak sholat, sesungguhnya rugi besar juga karena menyia2kan oase waktu untuk aktivitas rekreasional nan syahdu itu.

Sudah2, cukup sudah mengeluhnya.

Sebetulnya keinginan untuk nulis lagi kali ini dipicu oleh anak saya.

Anak sudah beranjak gede, bulan depan sudah umur setengah tahun.
Sudah makin pinter, sudah bisa teriak2 dengan serunya, sesekali tengkurap dan bingung gak bisa mlumah.

Intensitas waktu saya dengan dia setiap hari cuma sesekali saja, itupun dalam rangka membantu istri. Kalo kelamaan menggendong, di otak saya sudah jerit2 kuwatir pekerjaan tdk slesey karena kelamaan menggendong Bajramaya, anak kami itu.

Kalo terus2an seperti ini, bisa2 tanpa sadar saya sudah mulai menjauh dari anak saya. Takut kalow suatu saat ketika sadar, saya sudah sangat jauh secara emosional dari anak dan istri.

Dalam masa yg agak panjang ke belakang, saya sudah sedikit sekali memiliki keresahan. Kalopun ada, biasanya hanya berhubungan dengan finansial saja (monoton bangetz).

Keresahan spiritual sudah langka, keresahan asmara sudah redup, keresahan emosional-empatik juga jarang. Itu hal yg sangat menakutkan dalam jangka panjang!

Keresahan merupakan stimulan sangat manjur untuk otak dan hati agar mau bertafakur. Me-review, mencari, membuat sintesa2 jawaban yang semestinya juga jadi bahan pertanyaan yg laen. Keresahan itu stimulan proses, untuk berbuat lebih baik.
Dalam keadaan resah, kita sudi berhenti. Merenung, dan melakukan aktifitas “non-produktif” kayak nulis puisi atau beberapa larik catatan pribadi, atau memandangi wajah si buah hati dengan takjub.

This entry was posted on Sabtu, Oktober 25th, 2008 at 7:39 pm and is filed under Curhat. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply