Pilih Router Jadi atau ‘Bikin’ Sendiri?
Pemanfaatan PC lawas untuk dijadikan server atau router memang bukan inovasi baru. Dalil Hukum Moore yg mengatakan bahwa pertumbuhan kecepatan perhitungan mikroprosesor mengikuti rumusan eksponensial, membuat komputer keluaran lawas masih punya cukup dayaguna untuk dimanfaatkan. Di sisi teknologinya, platform teknologi jadul yang telah menjadi public domain (beberapa diantaranya masuk dlm kategori Open Hardware) juga banyak diadopsi dalam bentuk “embedded PC” atau sering disebut “embedded” saja.
Teknologi embedded PC pada dasarnya adalah pemanfaatan komputer mini untuk melakukan tugas tertentu. Yg paling populer pengaplikasiannya pada bidang telecommunicatios, networking, dan network security. Ia merupakan perangkat yang memiliki setidaknya fungsi-fungsi dasar dan anatomi sebuah komputer; yaitu CPU, I/O, RAM, dan ROM atau CF (Compact Flash).
Disadari atau tidak, sebetulnya kita sudah sering memanfaatkannya dalam bentuk ADSL Router dan WiFi access-point alias hospot yg sejatinya merupakan perangkat router dengan jaringan nirkabel.
Lalu, lebih pilih mana: memanfaatkan PC bekas untuk dijadikan router atau beli router jadi berbasis embedded PC? Pertimbangannya yg utama tentu adalah budget dan ketersediaan.
PC bekas memang banyak disukai karena lebih fleksibel. Ia bisa diupgrade (setidaknya memori dan harddisknya bisa ditambah) hingga cukup layak untuk dijadikan sebuah file server juga, atau hanya sekedar router biasa dengan pilihan O/S yg sangat banyak seperti Freesco (Free Cisco), m0n0wall, dan lain-lain. Tapi, karena sosoknya yg lebih besar ia tentu lebih boros listrik dan tidak praktis. Daya tahannya pasti lebih bagus karena dukungan sistem pendingin yg lebih baik.
Router branded juga oke untuk yg punya budget cukup, selain ia lebih hemat listrik dan hemat tempat. Soal daya tahan, kalau yg merk terkenal dan harganya di atas US$ 300 biasanya juga sudah cukup bersaing dengan router dari komputer bekas.