Para Penjilat dan Kalajengking

Oleh A.S. Laksana

Saya sangat terpesona pada cerita ini: Seorang pendeta Zen selalu memulai pagi harinya dengan bermeditasi dan membayangkan dirinya berada di taman bunga. Dengan cara itu, dia memilih menyadari bahwa bagaimanapun kehidupan ini indah. Seorang pendeta Zen yang lain konon disengat kalajengking beracun dan seorang muridnya berniat membunuh binatang yang menyengat gurunya itu.

“Biarkan saja,” kata si pendeta.

“Ia menyengatmu dan ia memasukkan racunnya ke tubuhmu, Guru,” kata si murid.

“Ia memiliki sengat dan racun dan ia melakukan apa yang ia bisa lakukan,” kata si guru.

Cerita-cerita yang baik sering menyelamatkan saya dari pikiran yang kalut dan membebaskan saya dari keriuhan yang kadang meracuni pikiran. Anda tahu, setiap saat selalu ada orang-orang yang mencoba menyeret kita ke dalam urusan-urusan yang imbisil.

Kenapa mereka setega itu mengganggu kehidupan kita? Jawaban paling mudah, karena kita menjalani segala hal yang berulang. Karena itu, ada pernyataan tentang sejarah berulang, ada gagasan tentang roda nasib, orang Jawa mengenal konsep cakra manggilingan. Kita membayangkan hidup, juga waktu, sebagai sesuatu yang sirkuler. Hari akan selalu kembali lagi ke Ahad setelah tujuh kali matahari terbit dan terbenam, bulan akan selalu kembali ke Januari, dan kita akan merayakan hal-hal yang sama dalam seminggu, dalam sebulan, atau dalam setahun. Menu makan pagi Anda hari ini mungkin sama persis dengan makan pagi Anda delapan tahun lalu. Warna pakaian yang Anda kenakan hari ini mungkin sama dengan warna pakaian yang Anda kenakan pada Rabu tiga tahun lalu. Dan, kebodohan hari ini mungkin sekadar mengulangi atau menegaskan kebodohan-kebodohan di waktu-waktu lalu.

Jika Anda memiliki kebiasaan mencatat ucapan-ucapan atau tindakan-tindakan imbisil di sekitar Anda, sekali duduk Anda akan menemukan banyak sekali yang bisa Anda catat. Mungkin dalam setengah jam Anda bisa mencatat 33 hal imbisil; dalam satu bisa tiga kali lipat.

Pekan ini ada lagi yang bisa Anda tambahkan, yakni keriuhan dari Prabumulih, Sumatera Selatan, tentang tes keperawanan bagi anak-anak perempuan yang hendak masuk SMA. Saya kira, gagasan itu muncul karena penyerunya punya mulut dan mungkin punya niat baik untuk menyucikan kehidupan, namun bagi sementara orang gagasan itu tampak sebagai niat baik oleh orang yang berakal pendek.

Mungkin, jika benar-benar diterapkan, kebijakan itu akan melahirkan generasi penerus yang semuanya tanpa goresan dan Prabumulih pada saatnya kelak akan menjadi penghasil putri sejati yang sebersih bidadari di surga. Daerah itu bakal menjadi tempat idaman bagi para orang tua yang menginginkan punya menantu perempuan yang mengilap luar dalam.

Kepala Dinas Pendidikan Prabumulih, orang yang dianggap penyeru gagasan itu, kemudian menyangkal bahwa dirinya telah menyerukan usulan tersebut. Namun, orang di Pamekasan, Madura, telanjur menyepakati usulan itu. Sekretaris MUI Pamekasan mendorong pemerintah membuat undang-undang tentang tes keperawanan. Dia juga memberikan jalan keluar untuk siswi yang tidak perawan. “Silakan yang tidak perawan ikut pendidikan paket yang sudah disiapkan oleh pemerintah,” ujarnya.

Itu usulan mulia dan cemerlang. Saya yakin, dia diilhami oleh gagasan bahwa piring yang sudah dipakai untuk makan jangan dicampur dalam satu rak dengan piring bersih. Jika usulan itu dijalankan, kehidupan akan semakin mudah bagi kita, setidaknya dalam satu hal: Kita tahu pasti bahwa barang siapa yang mengikuti paket itu, dia pasti sudah tidak perawan. Astaga! Anda bisa membayangkan seperti apa perasaan anak-anak perempuan itu kelak jika bersekolah di tempat khusus untuk orang-orang yang sudah tidak perawan?

Sampai hari ini, kita menyedihkan karena tidak pernah beres dari urusan-urusan yang beginian. Kenapa tidak ada yang mengeluarkan isu bahwa Indonesia sedang menyiapkan orang pertama untuk mendarat ke Pluto lima tahun lagi? Kenapa tidak ada isu bahwa dalam sepuluh tahun dari sekarang kita menyiapkan generasi baru yang mampu membuat film-film berkualitas, mampu bermain bola segenius Messi, mampu berpikir sebaik Einstein, dan memiliki kematangan untuk menjalani hidup bersama dengan orang-orang lain?

Kita sudah menghirup situasi berbeda sejak lima belas tahun lalu, sejak Pak Harto diturunkan, dan situasi itu membuat setiap orang bisa bicara apa pun. Namun, komunikasi yang beres mensyaratkan setiap orang memiliki kemampuan yang sama baiknya antara bicara dan mendengar. Dalam hal ini, bahkan Pak Presiden, orang yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai komunikator nomor wahid, saya pikir juga perlu meningkatkan kecakapan mendengar.

Pada upacara kenegaraan 17 Agustus tahun lalu, misalnya, ada sejumlah kritik tentang betapa tidak pantasnya menyusupkan lagu ciptaan presiden ke dalam upacara kenegaraan. Tahun ini seperti tidak mendengar apa pun tentang kritik itu, lagu ciptaan presiden dinyanyikan lagi. Malah sekarang dua lagu, satu pada upacara penaikan bendera, satu pada upacara penurunan bendera.

Saya tahu bahwa orang-orang besar kadang mengĀ­ambil langkah tegas tanpa memedulikan pendapat orang lain. Mereka tetap melakukan apa yang perlu dilakukan meski orang-orang tidak setuju. Abraham Lincoln memutuskan mengakhiri perbudakan meskipun banyak suara menentangnya dan dia tetap menjalankan keputusannya meski dengan risiko perang saudara. Ali Sadikin, mantan gubernur DKI, pernah mengambil langkah kontroversial untuk membuka kasino di Toserba Sarinah dan menutup kuping dari suara-suara yang menentangnya. “Kalaupun di Jakarta tidak ada, orang-orang kaya yang gemar berjudi akan tetap berjudi di luar negeri,” katanya. “Kasino ini untuk mencegah agar uang mereka tidak lari ke luar,” ucap dia.

Tapi, itu tindakan-tindakan besar yang berbeda jika dibandingkan dengan kegemaran seseorang untuk mendengarkan lagu ciptaannya sendiri.

Saya percaya, ada lebih banyak orang yang memuji ketimbang yang mengkritik lagu-lagu Pak Presiden yang dinyanyikan di upacara kenegaraan. Setidaknya, Pak Presiden lebih banyak mendengar suara yang memuji ketimbang yang berkeberatan. Dugaan saya begini: Jika Anda hanya punya mulut dan Anda punya kekuasaan -minus telinga-, maka yang akan berhimpun di sekeliling Anda adalah para penjilat.

Mereka adalah makhluk-makhluk paling fleksibel di muka bumi dan sanggup menyesuaikan diri dengan kekuasaan seburuk apa pun. Mereka sanggup tertawa keras-keras meskipun Anda membuat banyolan yang tidak lucu. Mereka akan ringan hati mengatakan, “Brilian sekali itu, Pak,” terhadap apa pun yang Anda sampaikan. Mereka akan mengacungkan dua jempol tangan dan sanggup menambahkan dua jempol kaki jika diperlukan terhadap lagu-lagu atau puisi-puisi yang Anda ciptakan. Mereka memiliki mulut dan jempol, seperti kalajengking memiliki sengat dan racun.

Pada akhirnya saya harus memiliki cara untuk menjadi tenteram di tengah keriuhan dan ikhtiar-ikhtiar yang imbisil. Mungkin saya perlu mencoba membayangkan taman bunga setiap hari. Atau memiliki pemahaman sebagaimana pendeta satunya: Para penjilat dan kalajengking, bagaimanapun, adalah sama-sama makhluk yang sedang menjalankan apa yang mereka bisa. (*)

Akun Twitter @aslaksana (dimuat di JawaPos, 25/08/13)

This entry was posted on Senin, Agustus 26th, 2013 at 10:30 am and is filed under Artikel. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply