Istri freelance

Posted on April 13th, 2009 by dhista
Filed under Nikah | 2 Comments

Saya dulu, waktu masih bujangan, punya istilah lain untuk menyebut TTM: “pacar freelance”. Istilah itu sebetulnya untuk bikin sedikit diferensiasi dengan hubungan berpacaran nan “kelewatan”. Kita sering kan liat hubungan perpacaran yg sangat posesif; atau jenis perpacaran yg kemana2 musti bareng selengket2nya; nha itu yg saya maksut “kelewatan”.

Karena nurani kita percaya bahwa pacaran hanyalah hubungan penjajakan dan bukan sesuatu yg permanen, maka jenis hubungan “pacar freelance” sepertinya lebih sehat dihati :D Perpacaran itu dlm frame saya komitmennya masih jenis komitmen pembelajaran ala Sumpah Pramuka.

Lha bagaimana dengan “istri freelance”?
Kalau ini lain lagi ceritanya.

Walhasil, setelah dua sejoli menikah, ternyata kehidupan mereka tak terlalu banyak berubah. Yg jelas berubah adalah soal legalitas statusnya. Sementara soal aktifitas keseharian, boleh dibilang tak ada yg berubah drastis. Sang suami tetep bekerja dengan ritme waktunya, sang istri (yg kebetulan masih kuliah) juga masih berkutat dengan tugas2 perkuliahan aktivitas ala mahasiswi.

Lha ketika hadir si buah cinta, si anak manusia, bayi yg kiyut di antara mereka berdua, mulailah perubahan drastis terjadi. Keduanya harus lebih toleran, bekerjasama merawat si buah hati. Ritme waktu keduanya, prioritas kegiatan, dan termasuk juga tupoksinya masing2 berubah.

Si jabang bayi yg lemah (namun tak gemulai) dan mereka kasihi, sekarang menyedot begitu banyak perhatian dan alokasi waktu plus tenaga untuk merawatnya.

Mendadak, si istri menjelma jadi “istri freelance” bagi suaminya. Karena, di sisi yg lain, kehadiran si jabang bayi membuatnya jadi “ibu fulltime”. Prioritas waktu dan tenaganya sekarang lebih tercurah untuk anak daripada suaminya. Ya, nurani kita juga percaya bahwa sebaiknya memang merawat anak (apalagi yg masih dibawah 3 taun) dilakukan sepenuhnya oleh wanita yg melahirkannya.

Lalu, kalau istrinya freelance, suaminya apa?

Kayaknya tugas suami tetep jadi suami fulltime ya. Dia tetep punya kewajiban2 seorang suami, bahkan lebih banyak lagi. Karena selain tugas primernya sebagai pimpinan dan pengayom, dia juga harus siyap sediya membantu tugas2 keibuan.

Memilih resolusi sesuai kebutuhan

Posted on April 10th, 2009 by dhista
Filed under Telematika | No Comments

Sebelum melihat fitur yang lain, biasanya kita langsung membandingkan resolusi maksimum yang bisa dihasilkan kamera digital. Dan soal resolusi ini, biasanya juga sangat signifikan dengan harganya. Makin tinggi resolusinya, makin mahal pula harga digital camera (selain faktor merk dan fitur tambahan lainnya).
Ada beberapa jenis yang mengunggulkan fitur “ultra”seperti ultra compact digital cameras (mengutamakan ukurannya yg [...]

Life Alert: konsep pemanfaatan teknologi komunikasi dan keamanan untuk bantuan medis darurat

Posted on April 3rd, 2009 by dhista
Filed under Telematika | No Comments

Disebabkan faktor budaya, mayoritas manula di negara-negara Eropa dan Amerika lebih memilih hidup mandiri, terpisah dari anak dan cucunya. Hanya sebagian kecil dari mereka mau hidup dalam komunitas berbayar semacam panti jompo; karena lagi-lagi mereka tak mau dipandang sebagai orang yang lemah dan tak sanggup hidup mandiri. Keadaan macam itu membuat layanan life alert banyak [...]

Pilih Router Jadi atau ‘Bikin’ Sendiri?

Posted on April 1st, 2009 by dhista
Filed under Telematika | No Comments

Pemanfaatan PC lawas untuk dijadikan server atau router memang bukan inovasi baru. Dalil Hukum Moore yg mengatakan bahwa pertumbuhan kecepatan perhitungan mikroprosesor mengikuti rumusan eksponensial, membuat komputer keluaran lawas masih punya cukup dayaguna untuk dimanfaatkan. Di sisi teknologinya, platform teknologi jadul yang telah menjadi public domain (beberapa diantaranya masuk dlm kategori Open Hardware) juga banyak [...]