« Tak ada judul untuk hari ini | Home | Ruang-ruang kertas »

Numpang Rumah Mertua

By putri | August 21, 2007

Memasuki bulan ketujuh pernikahanku dengan suami, rasanya belum banyak yang berubah dari perjalanan rumah tangga kami ini. Soal keuangan, yah meski tak sampai kelaparan, kami berdua juga tak bisa segera melunasi beberapa tagihan yang slalu menunggu tiap bulan untuk dibayarkan. Tidak bisa dipungkiri bahwa keuangan merupakan satu hal yang penting juga dalam menjaga keutuhan sebuah rumah tangga seseorang. Beberapa kasus kekerasan dalam rumh tangga yang kujumpai pun juga tak luput dari peran keuangan itu.

Salah satunya jalinan hubungan suami istri yang notabene masih numpang di PMI (Pondok Mertua Indah) yang juga sudah dikaruniai seorang anak ini. Kebetulan aku dan suamiku kenal dekat dengan keluarga baru itu. Rumah tangga ini memang diawali dengan sedikit ‘maksa’. Sebenarnya bukan sebuah apologi juga sih untuk membenarkan apa yang sedang terjadi sekarang ini dengan rumah tangga mereka.

Kedua insan manusia yang masih sama-sama muda ini belum dapat mengkompromikan ego masing-masing agar hubungan tetap terjalin sewajarnya suami istri. Mengawali kehidupan dengan menumpang di rumah mertua, awalnya hanyalah akan digunakan sebagai batu loncatan semata sebelum mencari tempat tinggal sendiri. Namun, hingga kelahiran sang jabang bayi hingga usia satu tahun sang suami belumlah mengambil keputusan atau pun sebuah usaha untuk segera mencari tempat tinggal sendiri. Belum lagi beberapa waktu yang lalu, rumah tangga mereka juga diwarnai tindak kekerasan oleh sang suami baik melalui fisik dan psikis, yang akhirnya sang istri juga ikut membalas dengan perilaku serupa meski hanya dalam bentuk tekanan psikis saja. Untunglah meskipun awalnya sampai melibatkan kedua belah orang tua masing-masing pihak, akhirnya mereka berdua bisa didamaikan lagi, namun kini dengan membawa dendam ego yang telah bercokol di hati masing-masing.

Memang dalam kehidupan mereka, sang mertua bukanlah orang yang terlalu ikut campur dalam setiap pengambilan keputusan mereka,. Bahkan, hingga akhirnya kedua insan ini memilih untuk pisah ranjang itu pun sang mama mertua hanya selalu memanjatkan doa diiringi tetesan air mata kesedihan setiap kali ia teringat kehidupan rumah tangga anak laki-laki tersayangnya itu.

Fenomena jalinan rumah tangga baru yang masih tinggal di rumah mertua, mungkin bukan hal yang asing lagi bagi kita. Hampir setiap orang pernah tahu atau bahkan pernah merasakan bagaimana rasanya tinggal bersama mertua. Mertua yang notabene juga sudah merupakan orang tua kita sendiri setelah kita menikah dengan anaknya.

Ada banyak alasan mengapa seseorang memilih untuk masih tinggal di ’Pondok Mertua Indah’, seperti misalnya karena tidak diijinkan orang tuanya pergi meninggalkannya karena takut tidak ada yang mengurus orang tuanya, karena masih belum memiliki cukup uang untuk mengusahakan rumah bagi diri dan keluarganya sendiri, atau juga karena mewarisi harta peninggalan orang tuanya berupa rumah sehingga ia tetap harus tinggal di rumah tersebut dan masih banyak lagi alasan lainnya.

Apapun alasan seseorang untuk tetap tinggal bersama sang mertua, tentunya bukan tanpa masalah bukan?. Yah, namanya saja tinggal dengan seseorang yang ‘lebih berpengalaman’ menjalin hubungan rumah tangga, so para mertua biasanya sangat ‘ngeman’ atau dalam bahasa Indonesianya menjaga agar anaknya tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang mungkin pernah dilakukan oleh mereka demi utuhnya rumah tangga. Hanya saja terkadang kendala bahasa dalam proses komunikasi lintas generasi ini tak selalu berjalan mulus. Sehingga, bisa jadi anak ataupun menantu menjadi salah dalam mengartikan nasehat ataupun kata-kata yang dilontarkan sang mertua yang mungkin tujuannya sebenarnya baik untuk membangun hubungan rumah tangga putra putrinya, namun oleh sang anak dianggap ikut campur atau bahkan dianggap terlalu cerewet dan masih menganggap si anak seperti anak kecil.

Tak hanya sang anak saja yang terkadang salah mengartikan bahasa sang mertua. Namun, bisa jadi cara penyampaian sang mertua juga turut andil dalam proses komunikasi yang dapat disalah artikan tersebut.

Lalu, bagaimana dengan kita-kita yang masih numpang di rumah mertua? Apakah harus segera pindah? Atau belajar untuk berkompromi dengan beliau-beliau? Atau juga belajar bersahabat dengan beliau beserta dengan situasi yang terjalin bersamanya?.

Sebagai orang yang sama – sama masih numpang di Pondok Mertua Indah, rasanya solusi yang saya tawarkan ini lebih pantas untuk diri saya dan suami sendiri. Kalaupun orang lain dapat ikut mengambil hikmahnya ya syukur alhamdulillah. Menurut saya pribadi, jika alasan kita masih tinggal bersama mertua adalah karena kita masih belum cukup uang untuk dapat mengontrak atau juga membeli rumah sendiri, maka mulai sekarang cobalah putar otak terlebih dahulu mencari cara untuk dapat mengontrak rumah. Apalagi kalau seperti rumah tangga saya yang masih belum dikaruniai anak ini, jadi memungkinkan kita untuk mengontrak rumah terlebih dahulu meskipun itu ukuran yang kecil. Namanya juga orang usaha mendaptkan sumber dana, ya kita juga mesti terus berusaha di samping juga sabar dan tetap berdoa jika datangnya rezeki itu tak semulus yang kita harapkan.

Nah lain ceritanya kalau Anda masih betah tinggal bersama sang mertua karena alasan tak ada yang menjaga sang mertua kecuali Anda berdua. Jika Anda mengalami hal ini, maka ada baiknya kalau mulai sekarang Anda mencoba berkompromi dengan beliau-beliau tercinta itu. Mengalah terhadap apa yang disaranan oleh mereka—jika sifatnya memang baik—tak ada salahnya bukan?. Anggap saja seperti halnya ketika Anda meminta perhatian dari anak-anak Anda ketika mereka Anda suapi makanan. Bagaimana rasanya, kalau anak Anda enggan makan dan malah lari kesana kemari atau bahkan membuang makanan yang Anda suapkan padanya? dibanding dengan anak yang bersikap tenang saat Anda menyuapkan makanan padanya, meskipun dia terlihat enggan dengan pilihan menu yang Anda berikan?. Tentunya lebih melegakan hati, anak yang tetap makan dari suapan Anda meskipun dia tak menyukai menu tersebut, bukan?!. Yup, begitulah mungkin kira-kira ilustrasi sederhana perasaan mertua – mertua kita ketika dia ‘menyuapkan’ nasehatnya pada kita. Harapan beliau tentunya agar kita dapat ‘menelan’ nasehat yang diberikan pada kita, atau paling tidak dia tahu kita ‘mengunyahnya’, meskipun nantinya kita saring terlebih dahulu sebelum benar-benar kita ‘telan’.

Namun jika Anda tak terlalu ada masalah dengan mertua dan justru rumah yang Anda tempati tersebut merupakan rumah warisan dari orang tua, maka biasanya masalah justru muncul dari saudara-saudara ipar yang terkadang merasa Anda sebagai ‘perebut’ wilayah otoritas mereka di hati kedua orang tuanya. Bahasa lainnya mungkin sebuah kecemburuan. Disinilah waktunya kita untuk belajar menyesuaikan diri dan bersahabat dengan mereka. Seperti halnya solusi-solusi yang lain, dalam pencapaian solusi ini tentunya ‘benturan’ yang kita hadapi utamanya dengan saudara-saudara ipar juga bukan hal yang mudah. Butuh waktu, tenaga dan kesabaran ektra. Tapi, untuk hasil yang maksimal, semua ini pasti tak kan menjadi halangan buat kita. Sebelumnya, kita juga harus membicarakan dengan seksama hal apa yang menjadi permasalahan dengan mereka, apa yang diinginkan mereka dan apa yang kita inginkan, kemudian kita cari solusinya bersama-sama. Rembugan pertama biasanya belum dapat hasil apa-apa, Rembugan kedua, ketiga, keempat, dst, sampai semua pihak mendapatkan hasil yang terbaik. Lebih penting jika Anda tak berpkiran bahwa yang Ada lakukan ini hanya buang-buang waktu semata, karena apa yang kita lakukan sekarang meskipun tak berdampak langsung, bisa jadi entah berapa hari, minggu, bulan, atau bahkan tahun kemudian baru menampakkan hasil. Don’t worry, tak ada sesuatu yang sifatnya sia-sia jika yang kita lakukan itu tujuannya baik.

So, bagi Anda-anda yang masih numpang di rumah mertua dan sekaligus ini juga mengingatkan diri saya pribadi, keinginan untuk tak lagi serumah dengan mertua merupakan suatu keinginan yang patut duacungi jempol. Namun yang perlu diingat, jangan sampai keputusan yang akan kita ambil nantinya dapat berdampak buruk bagi hubungan kita dengan sang mertua maupun pihak-pihak yang bersangkutan di dalamnya. Lebih parah lagi kala itu semakin membuat kita stress sendiri karena terlalu memikirkannya. Kita boleh usaha tapi ya terus disertai kesabaran dan doa juga, kan?!. Selain itu sebaiknyalah, jalinan komunikasi yang baik tetap kita jalankan sebelum mengambil keputusan agar tak ada salah paham.

Menjalin sebuah ukhuwah atau hubungan silaturahmi yang baik dengan mertua tak hanya bernilai ibadah seperti halnya bakti kita kepada orang tua saja, tetapi juga sebuah investasi jangka panjang untuk pendidikan anak-anak kita kelak. Apa yang kita lakukan terhadap orang tua maupun mertua kita merupakan suatu teladan yang kan diamati dan diaplikasikan oleh anak-anak kita nantinya. Nah, sekaranglah saatnya Anda mulai memikirkan keputusan yang terbaik bagi Anda dan keluarga.

Topics: Nikah |

Comments

Feed

Profil

Kami, sepasang pengantin. Mengarungi biduk kecil di samudra dunia.

Blogroll

Search